Search
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Miracle Multi Language
Latest topics
» Ketahui Cara Minum Kopi yang Benar
Wed Sep 23, 2015 3:46 pm by miracle

» Rollaas Macadamian Nuts
Tue Sep 15, 2015 4:09 pm by dstations

» Belanja di Mal Terbesar Manila
Sat Aug 29, 2015 6:56 pm by vertical

» Metro Resort Pratunam - Bangkok, Thailand
Mon Aug 17, 2015 10:10 pm by vertical

» 10 Wisata Gratis di Tokyo
Fri Jul 24, 2015 10:00 pm by vertical

» SIM CARD di Thailand
Fri Jul 17, 2015 9:38 pm by vertical

» Berkah Bilih Danau Singkarak
Mon Jun 15, 2015 9:01 pm by hestijunianatha

» 12 Tempat Wisata di Sekitar Jakarta
Mon Jun 15, 2015 8:56 pm by hestijunianatha

» Benteng Terluas di Dunia Ada di Buton
Mon Jun 15, 2015 8:52 pm by hestijunianatha

Miracle Mailing List

Enter your email address:

Toko Online
BEE LA VISTA TRAVEL

Upacara Tulude Kabupaten Kepulauan Sangihe - Sulawesi Utara

View previous topic View next topic Go down

Upacara Tulude Kabupaten Kepulauan Sangihe - Sulawesi Utara

Post  shema on Sat Jan 05, 2013 12:39 am


Masyarakat Nusa Laut (Kepulauan Sangihe, Talaud, dan Sitaro) di Provinsi Sulawesi Utara memiliki agenda budaya tahunan yang bertajuk Upacara Tulude. Upacara Tulude telah menjadi identitas masyarakat Nusa Laut yang merasuk ke dalam adat, tradisi, dan budaya mereka. Identitas yang dipercaya telah berlangsung sejak berabad-abad silam ini terus ditularkan dari generasi ke generasi. Bahkan masyarakat Nusa Laut yang telah bermukin di luar daerah, seperti di Kota Bitung, Kota Manado, dan Kabupaten Bolaang Mongondow, ternyata juga menggelar Upacara Tulude.

“Tulude” atau “menulude” berasal dari kata “suhude”, dalam bahasa Sangihe berarti tolak, menolak, atau mendorong. Secara luas arti “tulude” adalah menolak untuk terus berpatokan pada tahun lampau dan siap menyongsong tahun baru. Upacara ini merupakan simbol ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atau dalam bahasa masyarakat setempat disebut Mawu Ruata Ghenggona, atas kelimpahan rizki dan berkat yang diberikan selama setahun lalu. Menurut tradisi lisan, pada awalnya Upacara Tulude digelar setiap tanggal 31 Desember.


Ketika agama Kristen dan Islam masuk ke wilayah Nusa Laut sekitar abad ke-19, maka terjadi pergeseran dalam pelaksanaan Upacara Tulude dari 31 Desember menjadi 31 Januari. Pergeseran tersebut sehubungan dengan aktivitas masyarakat di Nusa Laut yang disibukkan dengan perhelatan Natal yang jatuh pada 25 Desember serta ibadah akhir tahun. Atas kesepakatan adat, maka perhelatan Upacara Tulude dimundurkan menjadi tanggal 31 Januari. Bahkan pada 1995, DPRD dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe-Talaud menetapkan bahwa tanggal 31 Januari sebagai Hari Jadi Sangihe-Talaud yang diisi dengan perhelatan Upacara Tulude.

Upacara Tulude dihelat dengan melewati beberapa tahapan. Dua minggu sebelum digelar Upacara Tulude, seorang tetua adat menyelam ke dalam lorong bawah laut yang berada di Gunung Banua Wuhu. Tetua adat ini membawa sepiring nasi putih dan emas yang dipersempahkan kepada Banua Wuhu yang bersemayam di lorong tersebut. Usai menggelar ritual penyelaman tersebut, dimulailah rangkaian perhelatan Upacara Tulude yang diawali dengan pembuatan kue adat Tamo di rumah salah seorang tetua adat sehari sebelum pelaksanaan upacara.


Prosesi selanjutnya adalah persiapan berbagai perlengkapan upacara. Persiapan tersebut terdiri dari: pasukan pengiring, penari Tari Salo, Tari Empat Wayer, Tari Gunde, Tari Kakalumpang, kelompok nyanyi Masamper, tokoh adat pembawa ucapan Tatahulending Banua, tokoh adat pemotong kue adat tamo, tokoh adat pembawa ucapan doa keselamatan, seorang tokoh pemimpin upacara yang disebut Mayore Labo, persiapan kehadiran Tembonang u Banua (pemimpin negeri) dan Wawu Boki (isteri pemimpin negeri), dan penyebaran undangan kepada masyarakat agar hadir dengan membawa makanan untuk Saliwangu Banua (pesta rakyat).


Puncak Upacara Tulude dihelat selama empat jam (sore-malam) yang diawali dengan penjemputan kue adat Tamo kemudian diarak keliling desa atau kota. Kue adat Tamo selanjutnya dibawa ke tempat pelaksanaan upacara yang telah dihadiri oleh Tembonang u Banua. Tetua adat kemudian memimpin doa kela’, yaitu doa yang dipanjatkan dengan mata terbuka, dengan harapan agar pemimpin negeri dapat menjalankan pemerintah secara adil dan bijaksana. Usai berdoa, tetua adat memotong kue adat Tamo.

Upacara Tulude memiliki nilai keistimewaan yang terletak pada masih suburnya pengaruh adat terhadap kehidupan masyarakat Nusa Laut, bahkan yang telah bermukin di luar wilayah tersebut. Selain itu, dari sisi perhelatan, Upacara Tulude mampu menjadi salah satu magnet karena diadakan dengan sangat meriah. Seluruh masyarakat Nusa Laut terkesan mengikuti upacara ini, terlebih lagi ketika arak-arakan kue adat Tamo di gelar.

Sehubungan dengan pelaksanaan Upacara Tulude yang telah menjadi agenda tahunan, maka seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat turut berpartisipasi dalam perhelatan ini. Dukungan dari pemerintah terhadap kebudayaan menjadikan upacara ini tertata dan terpublikasi dengan baik, sehingga informasi seputar Upacara Tulude telah tersebar dalam dunia pariwisata.

Salah satu hal menarik dari upacara ini adalah ketika digelar ritual penyelaman ke Banua Wuhu. Gunung ini dikenal memiliki kepundan yang mengeluarkan gelembung pada kedalaman 8 meter dan memiliki suhu sekitar 37-38° C. Di beberapa lubang keluar air panas yang sanggup membuat tangan telanjang bisa melepuh bila mencoba memasukkan ke dalamnya. Namun, eksotisme perairan ini sebanding dengan resiko yang harus dihadapi, sehingga ritual penyelaman menjadi saat yang menarik sekaligus mendebarkan.

Upacara Tulude digelar di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.

Lokasi perhelatan Upacara Tulude di Kepulauan Sangihe bisa diakses melalui beberapa alat transportasi. Jika menggunakan transportasi laut, Anda bisa memulai perjalanan dari Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara dengan menggunakan kapal penumpang reguler atau kapal cepat tujuan Tahuna, ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Jika menggunakan alat transportasi udara, Anda bisa memulai perjalanan dari Bandar Udara Sam Ratulangi di Manado dengan tujuan Bandar Udara Naha di Kepulauan Sangihe. Penerbangan Manado-Naha dilayani setiap Senin dan Kamis dengan pesawat jenis Wings air berkapasitas 52 sheet.

Pengunjung yang akan menyaksikan Upacara Tulude tidak dikenakan biaya. Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Sangihe untuk menyaksikan Upacara Tulude tak perlu khawatir dengan akomodasi dan fasilitas di tempat ini karena telah tersedia hotel dan penginapan. Data tahun 2004 menyebutkan telah berdiri 13 hotel dan penginapan di Tahuna. Restoran dan alat transportasi darat juga telah tersedia di tempat ini. (Tunggul Tauladan/04/01-2012)



Dari berbagai sumber

shema

Jumlah posting : 118
Join date : 2010-05-25

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum