Search
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Miracle Multi Language
Latest topics
» Ketahui Cara Minum Kopi yang Benar
Wed Sep 23, 2015 3:46 pm by miracle

» Rollaas Macadamian Nuts
Tue Sep 15, 2015 4:09 pm by dstations

» Belanja di Mal Terbesar Manila
Sat Aug 29, 2015 6:56 pm by vertical

» Metro Resort Pratunam - Bangkok, Thailand
Mon Aug 17, 2015 10:10 pm by vertical

» 10 Wisata Gratis di Tokyo
Fri Jul 24, 2015 10:00 pm by vertical

» SIM CARD di Thailand
Fri Jul 17, 2015 9:38 pm by vertical

» Berkah Bilih Danau Singkarak
Mon Jun 15, 2015 9:01 pm by hestijunianatha

» 12 Tempat Wisata di Sekitar Jakarta
Mon Jun 15, 2015 8:56 pm by hestijunianatha

» Benteng Terluas di Dunia Ada di Buton
Mon Jun 15, 2015 8:52 pm by hestijunianatha

Miracle Mailing List

Enter your email address:

Toko Online
BEE LA VISTA TRAVEL

Aneka Kain Nusantara di tangan IPMI

View previous topic View next topic Go down

Aneka Kain Nusantara di tangan IPMI

Post  marina on Sat Jul 23, 2011 1:10 pm


RAGAM kain Nusantara tengah menjadi primadona di kalangan pelaku dan pencinta mode. Terbukti, kain-kain tradisional diolah cantik oleh barisan perancang yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), Kamis (11/11) lalu.

Sebagai bagian dari Jakarta Fashion Week (JFW) 2010/2011, pergelaran yang berlangsung di fashion tent, Pacific Place, Jakarta itu kembali dihiasi dengan peragaan busana rancangan 10 anggota IPMI. Berangkat dengan tema "Precious Indonesia" yang mengangkat keelokan kain Nusantara, show ini menjadi salah satu agenda yang dinanti.

Show dibuka dengan penampilan karya Liliana Lim. Mengangkat tenun NTT dan sutra mentah dalam palet warna lembut, siluet yang diciptakan sangat siap pakai.

"Cutting diambil yang simplicity, jadi bisa dipakai sehari-hari. Dengan pangsa pasar wanita muda, modern, dinamis, warna-warna yang diambil merupakan warna Summer kuning, oranye. Seperti teknik melipat kertas dalam origami, tetapi disimpelkan dan cantik," kata Liliana Lim saat konferensi pers di Pacific Place, Jakarta, Kamis (11/11/2010).

Pergelaran semakin menarik dengan ditampilkannya karya Kanaya Tabitha yang mengusung label KATA. Corak berani bertebaran, dikemas dalam gaun-gaun draperi melambai.

"Sebenarnya saya suka sekali dengan alam Indonesia Timur. Banyak warna, experience. Jadi saya mengangkat apa saja yang saya punya, saya serap, kemudian dituangkan ke dalam desain-desain. Beberapa desain terinspirasi dari cara orang Badui berpakaian atau suatu suku yang melakukan hal serupa di suku-sukunya," papar Kanaya di kesempatan yang sama.

Stephanus Hamy kembali tampil dengan tema Gendongan yang mengangkat lurik. Meskipun koleksinya tak menghentak seperti show label-nya siang beberapa saat sebelumnya, namun pola konstruktif yang ia ciptakan mampu memberi napas baru pada kain rakyat ini.

"Kalau tadi (show tunggal) angkat kain Indonesia bagian Timur, kali ini saya mengangkat kain lain, gendongan dari Jawa, yang kasar, keras. Dari situ bahan tidak diolah, saya ingin menampilkan apa adanya," tutur pria ramah ini.

"Gendongan sendiri merupakan kain tradisional untuk menggendong, diinterpretasikan menjadi koleksi yang edgy dan ringan," sambungnya.

Valentino Napitupulu membawakan corak batik Toba di atas kain sifon berwarna terakota lembut. Sophisticated dan elegan.

"Adalah suatu presentasi yang menyeimbangkan pembuatan dan pemakaian batik Sumatera Toba. Koleksi ini ditujukan untuk kalangan wanita mapan, matang, dan suka mengeksplorasi penampilannya," ucap Valentino.

Disambung dengan Yongki Budisutisna yang memberikan sentuhan rock star pada batik. Model membawa gitar elektrik warna merah di panggung, sontak penonton pun bertepuk tangan.

"Saya memadukan batik dengan batik Dayak dengan songket Dayak dan bulu-bulu sintetis, lalu dibungkus era retro tahun 1980-an," ungkapnya.

Sementara itu Sutanto Danuwidjaja menghentak dengan tampilan tatanan rambut model Afro, membawakan tema "Beauty of Nature" yang dipersembahkan untuk wanita matang, berjiwa muda, bersemangat, dan seksi. Padu padan batik dengan patchwork sifon terlihat manis.

Sedangkan Tuty Cholid mengolah tenun rang-rang khas Nusa Penida dan motif tenun ikat cepuk dalam olahan siluet khas Melayu seperti baju kurung dan tunik yang kaya warna khas busana Pulau Sumatera.

"Tidak berbeda dari tahun 1986-1987, saya selalu mengolah bahan alam budaya dari kekayaan Indonesia. Tahun ini saya lebih mengeksplor kain-kain batik ke modern supaya tidak terbatas bahan-bahan untuk culture, mana yang harus digunting, dan mana yang mess product," terang Tuty.

Widhi Budimulia yang selama ini identik dengan material sifon dan satin kini memadukan rancangannya dengan tenun Makassar. Diterjemahkan dalam bentuk jaket hingga patchwork pada gaun malam. Setelahnya, musik pun berubah tempo lebih cepat dan menghentak. Adesagi Kierana membawakan gaun-gaun ultra feminin bervolume, di atas sepatu yang menjulang tinggi. Vava voom!

"Menggunakan sutera Makasar, lace, organdi, memberi tampilan elegance. Busana mulai dari cocktail sampai evening dress. Dengan bahan Indonesia bisa tampil edgy," jelas Widhi.

Pergelaran ditutup oleh Era Soekamto yang merevitalisasi label Urban Crew (beberapa tahun lalu ia berpartner dengan desainer Ichwan Toha sebelum akhirnya vakum).

"Union of Galaxies" menjadi tema yang ia terjemahkan dalam nuansa retro yang sedikit hippies, sedikit 1980-an dan yang terpenting siap pakai. Atasan dengan detail tercabik di bagian belakang, jaket kulit hingga legging kulit terasa sangat kini.

_________________

marina

Jumlah posting : 224
Join date : 2010-03-31

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum